PASAMAN, InfoPasaman.com — Festival Budaya Sapuluah Induak kembali digelar di Kabupaten Pasaman pada 12–16 Oktober 2026. Berpusat di Terminal Benteng, Nagari Tanjung Baringin Raya, festival ini menjadi salah satu upaya masyarakat adat untuk menjaga tradisi Minangkabau sekaligus mempersiapkan generasi muda sebagai penerus pemangku adat.
Kegiatan tersebut melibatkan para niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, unsur pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat. Pembukaan festival juga dihadiri 10 induak ninik mamak pemangku adat Nagari Tanjung Baringin Raya dan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi PKB, Donizar.
Festival ini tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diarahkan sebagai ruang pembelajaran agar generasi penerus mengenal nilai, pengetahuan, serta tanggung jawab yang melekat dalam kehidupan adat.
Regenerasi Pemangku Adat Jadi Perhatian
Niniak Mamak Dt. Bagindo Majolelo menjelaskan bahwa Festival Sapuluah Induak berangkat dari pemikiran para pemangku adat untuk mempersiapkan calon penerus dari kalangan generasi muda.
Menurutnya, keberlangsungan adat tidak cukup mengandalkan kegiatan seremonial. Pengetahuan dan nilai-nilai adat perlu diwariskan secara berkelanjutan agar generasi berikutnya memahami peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
Regenerasi menjadi penting agar adat tetap memiliki penerus yang mampu menjalankan tradisi sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.
Festival Sapuluah Induak sendiri telah diselenggarakan sejak 2023. Kegiatan ini diharapkan terus berlanjut sebagai ruang pertemuan antargenerasi sekaligus mempererat hubungan antarkaum di Nagari Tanjung Baringin Raya.
Pemkab Pasaman Dorong Adat Tetap Relevan
Pemerintah Kabupaten Pasaman menyambut penyelenggaraan festival tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan karakter masyarakat di tengah perubahan zaman.
Dalam sambutan Bupati Pasaman Welly Suhery, ditegaskan bahwa pembangunan daerah perlu berjalan beriringan dengan pelestarian adat dan budaya. Kemajuan tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan akar tradisi yang menjadi bagian dari identitasnya.
Pelestarian budaya karena itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemangku adat, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat.
Keterlibatan berbagai unsur dalam festival diharapkan dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa adat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Pasaman.
Falsafah Minangkabau Jadi Pegangan
Festival Sapuluah Induak juga membawa semangat falsafah Minangkabau, “Indak lakang dek paneh, dak lapuak dek hujan.” Ungkapan tersebut menggambarkan keteguhan adat dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
Nilai-nilai tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tradisi tidak hanya dikenal melalui cerita atau pertunjukan, tetapi juga dipahami dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Melalui proses pewarisan adat, generasi penerus diharapkan dapat memahami nilai kebersamaan, tanggung jawab, serta hubungan sosial yang membentuk kehidupan masyarakat nagari.
Festival ini sekaligus menjadi wadah silaturahmi bagi masyarakat dan para pemangku adat untuk memperkuat hubungan antarkaum di lingkungan Nagari Tanjung Baringin Raya.
Festival Berlangsung hingga 16 Oktober
Festival Budaya Sapuluah Induak dijadwalkan berlangsung hingga 16 Oktober 2026. Beragam penampilan adat dan kebudayaan khas Nagari Tanjung Baringin Raya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Pasaman menyampaikan apresiasi kepada niniak mamak, alim ulama, bundo kanduang, panitia, masyarakat nagari, dan seluruh pihak yang bergotong royong menyukseskan acara.
Keberlanjutan festival diharapkan dapat memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal. Pada akhirnya, kelestarian adat tidak hanya bergantung pada pelaksanaan festival, tetapi juga pada kesediaan setiap generasi untuk mempelajari, menjalankan, dan meneruskan nilai-nilai tersebut.
