PASAMAN – Bagi masyarakat Pasaman, Oktober adalah bulan yang istimewa. Pada bulan inilah daerah ini mengenang perjalanannya sekaligus menengok seberapa jauh ia telah berkembang bersama warganya. Tahun ini, tepat pada 8 Oktober 2026, Kabupaten Pasaman memasuki usia ke-81.
Delapan dekade lebih bukan waktu yang singkat. Selama itu zaman berganti, pembangunan terus berjalan, adat dan budaya diwariskan, dan generasi baru tumbuh dengan kisah tentang tanah kelahirannya.
Untuk menyambut hari jadi tersebut, Pemerintah Kabupaten Pasaman tidak hanya menyiapkan satu upacara. Disusun serangkaian kegiatan yang melibatkan pelajar, masyarakat umum, organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, komunitas, pelaku UMKM, dan berbagai kelompok lain. Sejak awal Oktober, berbagai lokasi akan menjadi tempat bertemunya kreativitas, budaya, pendidikan, olahraga, keagamaan, dan hiburan.
Generasi Muda di Panggung Utama
Keramaian dimulai pada 1–2 Oktober 2026 lewat lomba catur antar-OPD dan instansi vertikal. Bupati Pasaman kemudian membuka rangkaian Hari Jadi secara resmi pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Hari itu juga menandai dimulainya Festival Pelajar Pasaman 2026 untuk jenjang SMA/sederajat dan perguruan tinggi.
Kompetisinya beragam. Peserta dapat tampil lewat tari kolosal yang mengangkat sejarah, legenda, dan budaya daerah, drama musikal, paduan suara, Musabaqah Syarhil Quran, sambung puisi, yel-yel edukatif, kreasi daur ulang, hingga rancang bangun menara mini yang menguji kekompakan dan daya cipta.
Pada 4 dan 5 Oktober, giliran siswa SD dan SMP/sederajat tampil. Mereka akan mengikuti berbalas pantun Anak Nagari, drumband, cerdas cermat, Senam Anak Indonesia Hebat, paduan suara, MSQ, cerita estafet, sambung puisi, dan lomba lainnya.
Pesannya jelas: anak-anak dan remaja bukan sekadar penonton perayaan daerahnya. Mereka menari, berpidato, bernyanyi, berkarya, dan bekerja sama, sehingga mengenal budaya serta identitas daerah lewat pengalaman langsung.
Pasaman dalam Bingkai Kamera
Cara sebuah daerah menceritakan dirinya kini ikut berubah. Dahulu kisah Pasaman menyebar lewat tuturan, tulisan, dan pertemuan tatap muka. Kini satu video singkat bisa membawanya melampaui batas nagari, bahkan daerah.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pasaman mengisi ruang ini dengan sejumlah lomba:
- Lomba video promosi rangkaian Hari Jadi ke-81 untuk pelajar SMA/sederajat dan perguruan tinggi.
- Lomba Reporter Cilik Pasaman 2026 untuk pelajar SD dan SMP/sederajat, berupa liputan kreatif dan video cerita pengalaman selama Festival Pelajar dan Hari Jadi.
- Lomba Video Kreatif “Pasaman dalam Konten 2026 – Satu Video, Sejuta Cerita Pasaman”.
- Lomba Logo Hari Jadi Kabupaten Pasaman ke-81.
Lewat lomba-lomba ini, generasi muda dan masyarakat diajak menjadi pencerita bagi daerahnya sendiri, mulai dari sekolah, tradisi, kehidupan warga, potensi alam, hingga suasana perayaan. Sebuah daerah tidak hanya dikenal lewat angka dan data. Terkadang satu gambar, satu suara, dan satu cerita sederhana lebih mampu membuat orang merasa dekat.
Tradisi dan Kegiatan Modern Berjalan Beriringan
Pada 6 dan 7 Oktober, suasana semakin beragam. Anak-anak PAUD tampil membawakan tari pasambahan dan operet anak. Agenda lain meliputi senam kreasi, mendongeng bersama Bupati dan Wakil Bupati, stimulasi dan mitigasi bencana, team building, kegiatan keagamaan, seminar, latihan gabungan PMR, olahraga, serta hiburan.
Dari sini tampak bahwa tradisi dan kegiatan modern tidak saling menyingkirkan, melainkan hadir berdampingan. Anak-anak mengenal seni tradisi, anak muda mendapat ruang berkreasi, dan masyarakat dapat mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan.
Bazar UMKM dan pasar malam juga digelar pada 3–10 Oktober. Bagi pengunjung, ini menambah pilihan hiburan. Bagi pelaku usaha lokal, keramaian tersebut menjadi peluang mengenalkan produk sekaligus menggerakkan ekonomi. Perayaan pun terasa tidak hanya di atas panggung, tetapi juga di tengah warga yang datang, berbelanja, dan menikmati suasana bersama keluarga.
8 Oktober: Puncak Peringatan
Puncak peringatan jatuh pada Kamis, 8 Oktober 2026, saat Pasaman resmi berusia 81 tahun. Pada pagi hari dijadwalkan lomba jamba dan makan bajamba, pawai jamba, seminar, bakti sosial untuk para veteran, serta hiburan. Siang harinya, piala diserahkan kepada para pemenang lomba, dan malamnya digelar gala hiburan malam puncak.
Di antara semua agenda, makan bajamba punya makna tersendiri. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, makan bersama bukan sekadar menyantap hidangan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, saling menghormati, dan kesetaraan ketika banyak orang duduk dalam satu lingkaran. Tradisi ini seperti cermin sebuah daerah: warganya berasal dari beragam latar, tetapi punya tempat yang sama untuk menjadi bagian dari kebersamaan.
Maka makna Hari Jadi Pasaman bukan hanya bertambahnya usia pemerintahan daerah, melainkan juga tumbuhnya masyarakat bersama daerahnya.
Perayaan Berlanjut Hingga 10 Oktober
Rangkaian tidak berhenti pada 8 Oktober. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, digelar tabligh akbar dan hiburan. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pawai budaya berlangsung dari pagi hingga sore, lalu ditutup dengan hiburan malam.
Pawai budaya menjadi kesempatan memperlihatkan kekayaan identitas Pasaman, mulai dari busana, seni, hingga tradisi. Semua itu tidak hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga mengenalkannya kembali kepada generasi penerus. Di tengah perubahan zaman yang cepat, ruang seperti ini penting karena budaya tetap hidup bukan semata karena disimpan, melainkan karena terus dipakai, diperkenalkan, dan diwariskan.
Perayaan Milik Bersama
Delapan puluh satu tahun perjalanan Pasaman tersusun dari banyak kisah: petani yang bekerja sejak subuh di nagari, guru yang mendampingi murid, pedagang yang menjaga usaha keluarga, aparatur yang melayani masyarakat, pelajar yang mengejar cita-cita, pelaku UMKM yang membangun usaha selangkah demi selangkah, serta perantau yang terus membawa nama kampung halaman ke mana pun pergi.
Karena itu, peringatan hari jadi akan lebih bermakna jika masyarakat turut hadir. Warga dapat menyaksikan kreativitas pelajar, mendukung produk UMKM lokal, menikmati seni dan budaya, mengikuti kegiatan terbuka, mengabadikan momen, lalu membagikan cerita tentang Pasaman kepada lebih banyak orang.
Pada akhirnya, Hari Jadi ke-81 bukan sekadar mengenang tanggal berdirinya daerah. Ini adalah momen menengok kembali perjalanan, merawat warisan, dan menumbuhkan optimisme terhadap capaian berikutnya. Perjalanan 81 tahun Pasaman masih terus berlanjut, dan masyarakat diajak menjadi bagian dari babak selanjutnya.
